SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA
Breaking News Memuat berita...

Di Tengah Tekanan Anggaran, Markus Tegakkan Simbol Kemanusiaan: Rumah Duka Bakti Kasih Menjelang Mentok Resmi Berdiri


Penulis: Hariyanti dan Tim

MENTOK, BANGKA BARAT,Babel expots— Dalam lanskap ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan tekanan fiskal yang masih membayangi daerah, langkah Markus justru bergerak ke arah yang tak biasa untuk menghadirkan ruang kemanusiaan di tengah keterbatasan.

Selasa (24/03/2026), di Kelurahan Majelang, Mentok, Bupati Bangka Barat, Markus, S.H., itu meresmikan Rumah Duka Bakti Kasih Katolik. Sebuah bangunan yang megah secara fisik, namun sarat makna secara moral dan sosial. Terbentuknya bangunan ini merupakan hasil uang para donatur secara gotong royong dengan terkumpul mencapai angka 400 juta.

Di hadapan masyarakat, tokoh agama dan para relawan, Markus berdiri bukan sekadar sebagai kepala daerah, tetapi sebagai figur yang mencoba menegaskan kehadiran negara hingga ke ruang paling menyentuh yaitu duka cita rakyatnya.

Dalam pidato yang disampaikan dengan bahasa yang tertata dan penuh penekanan emosional, Markus secara terbuka mengungkap realitas yang jarang disampaikan secara gamblang oleh pejabat publik adanya sekitar Rp200 miliar dana yang belum tersalurkan dari pemerintah pusat ke daerah.

“Secara kapasitas fiskal, daerah ini memiliki potensi anggaran yang tidak kecil. Namun, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa kondisi keuangan negara saat ini sedang menghadapi tantangan yang cukup berat. Ada sekitar Rp200 miliar yang hingga kini belum tersalurkan. Ini bukan sekadar angka, tetapi menyangkut harapan pembangunan masyarakat,” ujar Maskus. 

Namun alih-alih menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan stagnasi, Markus justru membingkainya sebagai panggilan kepemimpinan. Ia mengubah keterbatasan menjadi panggung moral. Sebuah narasi bahwa kepemimpinan tidak diukur dari kelimpahan sumber daya, melainkan dari keberanian mengambil keputusan di saat sulit.

Di titik inilah, peresmian Rumah Duka Bakti Kasih menemukan relevansi politik dan sosialnya. Bangunan ini menjadi simbol bahwa di bawah kepemimpinan Markus, pemerintah daerah tidak sekadar menghitung angka, tetapi juga merawat rasa.

“Rumah duka ini bukan hanya sekadar fasilitas. Ia adalah representasi kehadiran negara dalam momen paling rapuh kehidupan manusia. Ketika seseorang kehilangan, negara tidak boleh absen. Negara harus hadir memberi ruang, memberi penguatan, dan memberi makna,” tegasnya.

Narasi tersebut mengalir kuat, membangun citra seorang pemimpin yang tidak hanya administratif, tetapi juga empatik. Markus memposisikan dirinya sebagai jembatan antara kebijakan dan kemanusiaan. Antara angka dalam laporan keuangan dan air mata yang jatuh dalam kesunyian.

Di hadapan publik, ia juga menampilkan sisi kepemimpinan yang aktif dan responsif. Ia mengungkapkan bahwa dirinya bahkan telah merencanakan perjalanan rutin ke Jakarta untuk memperjuangkan hak-hak fiskal daerah, sebuah pernyataan yang secara implisit memperkuat citra sebagai pemimpin yang tidak tinggal diam.

“Saya telah merencanakan untuk secara berkala melakukan koordinasi langsung ke pemerintah pusat. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami agar hak-hak daerah dapat segera terealisasi. Kita tidak boleh hanya menunggu, kita harus menjemput solusi,” katanya.

Momentum ini sekaligus menjadi panggung apresiasi. Markus dengan penuh kesadaran menyebut dan menghargai peran panitia, tokoh masyarakat, serta para donatur yang telah berkontribusi. Namun, dalam kerangka yang lebih luas, apresiasi itu juga memperkuat pesan bahwa kepemimpinannya bersifat kolaboratif merangkul, bukan mendominasi.

“Saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Ini adalah bukti bahwa ketika masyarakat dan pemerintah berjalan bersama, tidak ada keterbatasan yang tidak bisa dilampaui,” ujarnya.

Di balik rangkaian kata yang tersusun rapi, tersirat sebuah konstruksi citra yang kuat, Markus bukan hanya pemimpin yang bekerja dalam sistem, tetapi juga figur yang membangun kedekatan emosional dengan rakyatnya. Ia hadir dalam narasi sebagai sosok yang memahami kesulitan, mengakui keterbatasan, namun tetap menawarkan harapan.

Peresmian Rumah Duka Bakti Kasih Katolik Menjelang Mentok di pun menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia menjelma menjadi simbol kebijakan kemanusiaan. Sebuah pesan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi, kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang tetap berpihak pada nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Sore itu, ketika pita diresmikan dan doa dipanjatkan, publik tidak hanya menyaksikan berdirinya sebuah bangunan. Mereka menyaksikan bagaimana seorang pemimpin membangun narasi tentang dirinya sendiri sebagai pelindung harapan, penjaga empati dan wajah negara yang tetap hadir, bahkan di saat paling senyap sekalipun.
Baca Juga

Paling sering ditanyakan

    atau
    Lebih baru Lebih lama

    Formulir Kontak

    Listen
    Aa 💬 f 𝕏
    LIVE - TEMUKAN BERITA KAMI LAINNYA