Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
PANGKAL PINANG — Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mempercepat pengembangan Desa Dendang, Kabupaten Belitung Timur, sebagai Post-mining Learning Center nasional. Sebuah pusat pembelajaran pasca tambang yang mengintegrasikan pemulihan lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Program ini menjadi bagian dari prioritas pembangunan daerah yang berfokus pada reklamasi tambang, dengan Bappeda sebagai penggerak utama yang mengoordinasikan kolaborasi lintas sektor, termasuk bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Federal Institute for Geosciences and Natural Resources (BGR) Jerman dalam kerangka Mine Reclamation and Environmental Protection.
Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dr. Joko Triadhi, M.Si, menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya bertujuan memulihkan lahan, tetapi juga membangun sistem pembelajaran yang dapat direplikasi secara nasional.
“Kami menjalankan mandat Gubernur untuk memastikan bahwa lahan pasca tambang tidak berhenti pada pemulihan, tetapi berkembang menjadi pusat pengetahuan dan kehidupan baru,” ujarnya, Senin (13/04/2026).
Sebagai langkah awal, tim Bappenas, BGR, dan Litbang Bappeda telah melakukan baseline assessment di Belitung Timur untuk memetakan kondisi biofisik, sosial dan ekonomi secara menyeluruh, guna memastikan intervensi program tepat sasaran dan berkelanjutan.
Di Desa Dendang, kolong-kolong bekas tambang yang dulunya masih diam kini mulai berbicara kembali bukan dengan suara mesin, tetapi dengan denyut kehidupan.
Di atas permukaan air yang dahulu dianggap mati, masyarakat menanam padi melalui sistem sawah apung. Di bawahnya, ikan-ikan bergerak pelan, menjaga siklus kehidupan tetap berjalan. Di antara keduanya, manusia berdiri sebagai penjaga keseimbangan yang baru dipelajari kembali.
Inovasi ini lahir dari Kelompok Pembudi Daya Ikan (Pokdakan) Aik Kik Apau bukan dari ruang-ruang laboratorium, melainkan dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan perubahan alam.
Bagi Bappeda, inilah titik awal yang paling jujur dari sebuah pembangunan ketika masyarakat lebih dahulu menemukan jawabannya dan negara datang untuk menguatkannya.
“Kami tidak memulai dari nol. Kami belajar dari masyarakat, lalu memperkuatnya dengan pendekatan ilmiah dan kebijakan,” kata Joko.
Post-mining Learning Center di Dendang tidak dibangun sebagai proyek biasa. Ia dirancang sebagai ruang belajar terbuka tempat di mana luka ekologis tidak disembunyikan, tetapi dijadikan bahan pelajaran.
Di sana, tanah yang pernah dikeruk menjadi teks yang dibaca ulang. Air kolong menjadi cermin yang memantulkan kesalahan sekaligus harapan. Dan manusia, perlahan, belajar kembali memahami batasnya.
Di balik data dan peta yang disusun dalam baseline assessment, tersimpan kisah-kisah yang lebih dalam tentang nelayan yang kehilangan lautnya, petani yang kehilangan tanahnya dan anak-anak yang tumbuh di lanskap yang berubah terlalu cepat.
Bappeda membaca semua itu bukan sebagai statistik, tetapi sebagai narasi kehidupan yang harus dipulihkan.
Melalui pendekatan ini, Post-mining Learning Center tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga menjahit kembali hubungan sosial yang sempat terputus.
Dalam keseluruhan proses ini, Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tampil sebagai arsitek yang tidak hanya merancang, tetapi juga merasakan.
Mereka tidak berhenti pada dokumen perencanaan, tetapi turun ke lapangan, menghubungkan masyarakat dengan pengetahuan dan menjembatani kepentingan lokal dengan jaringan global.
Peran ini menjadikan Bappeda lebih dari sekadar institusi birokrasi, ia menjadi ruang di mana gagasan tentang masa depan dirawat dan diwujudkan.
“Kami hadir sebagai jembatan. Antara kebijakan dan kenyataan, antara ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup masyarakat,” tegas Joko.
Pemilihan Desa Dendang sebagai lokasi pengembangan telah melalui proses panjang dari penjaringan, survei, hingga planning workshop di Jakarta pada Februari 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa Dendang memiliki kombinasi kekuatan ekologis dan sosial yang layak menjadi model.
Meski berakar di Belitung Timur, Post-mining Learning Center dirancang untuk melampaui batas geografis. Ia diharapkan menjadi referensi nasional, bahkan internasional, tentang bagaimana wilayah pasca tambang dapat dikelola secara berkelanjutan.
Di tangan Bappeda, Dendang tidak hanya dibangun sebagai lokasi, tetapi sebagai gagasan bahwa dari ruang yang pernah rusak, manusia masih bisa belajar menciptakan kehidupan.
Pada akhirnya, pembangunan ini bukan sekadar tentang masa depan. Ia juga tentang keberanian untuk mengingat masa lalu.
Tentang bagaimana tanah yang pernah dilukai tidak ditinggalkan, tetapi dipulihkan dengan kesadaran baru.
Tentang bagaimana pembangunan tidak lagi sekadar mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga merawat makna kehidupan.
Dan tentang bagaimana Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menempatkan diri bukan hanya sebagai perencana, tetapi sebagai penjaga harapan.
Di Desa Dendang, di atas air kolong yang kini memantulkan langit, sebuah pelajaran sedang ditulis perlahan bahwa dari luka yang paling dalam, kehidupan masih bisa tumbuh asal manusia mau belajar.
Tags:
Berita
